
Thoriq Alkatiri saat memimpin sebuah pertandingan./dok. thoriq alkatiri.
BOLAyes.news.blog.- Cukup banyak pengalaman Thoriq Alkatiri saat menjadi wasit. Ketika ambil lisensi FIFA pada 2014 juga jadi pengalaman tersendiri. Waktu itu tidak ada rencana ambil lisensi FIFA. Cuma dulu usia pas 25, jadi didaftarkan. Saat itu berdekatan dengan tanggal pernikahannya.
Sebelum ambil lisensi FIFA Thoriq memang ada rencana menikah. Akhirnya ambil FIFA di Brunei Darussalam, di sana kursus selama satu minggu. Waktunya itu 20 hari sebelum tanggal pernikahan. Calon istrinya waktu itu santai saja.
Sama seperti profesi lain, jadi wasit juga ada suka dan duka. Sukanya bisa jalan-jalan ke seluruh Indonesia, ke setiap pulau. Hampir semua kota-kota besar di Indonesia pernah didatanginya, ke luar negeri juga pernah.
Sedangkan untuk dukanya, ya seperti yang selama ini terdengar lewat berita saja tentang wasit itu bagaimana? Ya ancaman teror, seperti dari suporter, lalu diteriaki dengan caci-maki. Cuma karena sudah terbiasa, ya sudah dinikmati saja, bukan masalah.
Selain itu dia juga sudah pernah kena pukul. Kena pukul sudah, kena tendang juga sudah. Kalau dipukul waktu itu di Sorong, Papua, saat Persiram Raja Ampat lawan Persipura Jayapura pada 2013 kalau tidak salah.
“Saya kena pukul oleh ofisial Persiram, kejadiannya setelah babak kedua. Begitu selesai pertandingan penonton sudah penuh di garis lapangan. Itu karena saking penuhnya stadion di sana. Penuh dengan penonton dari Persipura, bukan tim tuan rumah. Kalah jumlah penonton Persiram sama Persipura,” ujarnya.
Saat skor akhir imbang 1-1, lanjut THoriq semua penonton ke lapangan mengejar pemain. Dia sudah diamankan Polisi Militer. Tapi ada ofisial Persiram memukul dari belakang.
Waktu itu dia tidak tahu. Namun akhirnya pemain Persipura kasih tahu sambil mengejar ofisial itu, antara Boaz Solossa dan Ortizan Solossa yang kasih tahu pemukulan itu. Setelah itu semuanya beres. (bersambung/@fen/sumber: cnn idonesia) **