
Thoriq Alkatiri saat memimpin sebuah pertandingan./dok. thoriq alkatiri.
BOLAyes.news.blog – Dulu, ujar Thoriq, suka sekali diteriaki penonton tuan rumah, apalagi kalau hasilnya kurang memuaskan bagi mereka. Tapi tidak enak disebut timnya. Memiliki kerjaan sebagai wasit sering seperti di ujung tanduk, sering jadi kambing hitam, apalagi kalau kami buat kesalahan.
Bagi dia dan korp baju hitam lainnya sudah biasa, ketika ada tim kalah atau mereka buat satu kesalahan lalu dibesar-besarkan. Ya tapi menurutnya tidak kapok. Dia pun tidak tahu soal mafia wasit.
“Saya tidak menyesal jadi wasit. Saya menikmatinya, saya mencintai pekerjaan jadi wasit. Kalau dihitung-hitung antara kejadian buruk dan kesenangannya, ya banyak senangnya. Dapat teman baru juga jadi kepuasan bagi seorang wasit,” kata Thoriq.
Mengikuti Jejak Salim Alaydrus
Awal mula karier dia sebagai wasit justru dari keinginan menjadi pemain bola. Dulu saat masih duduk di SD dia ikut sekolah sepak bola (SSB) Nur Sabab di Purwakarta.
Dia masih bermain bola saat di tingkat SMP, berlanjut ke SMA. Bahkan sempat masuk tim Soeratin Purwakarta. Semasa bermain posisinya sebagai pemain belakang. Dia termasuk pemain tinggi, ya hitungannya pas-pasan untuk seorang bek. Ketika di tim Soeratin dia masih kelas 1 SMA.
Tetapi, saat turnamen Soeratin itu dia mengaku cedera kaki. Waktu itu dia cedera paha belakang sebelah kanan, hamstring sepertinya. Awalnya pas main tidak apa-apa, tapi lama-lama sakit, dan tambah sakit.
Cedera hamstring lalu diurut, akhirnya ototnya pecah. Cederanya semakin parah. Karena cedera itu akhirnya dia berhenti main sepak bola. dia benar-benar tidak bersemangat lagi bermain. (bersambung/@fen/sumber: cnn idonesia) **