BOLAyes.news.blog – Para pecandu sepak bola di Kota Solo menyatakan duka mendalam atas meninggalnya pemain bintang tahun 80-an, Ricky Yacob, yang kala itu merupakan ujung tombak klub Liga Utama (Galatama), Arseto Solo.

Foto kenangan Ahmad Sukisno (tengah) bersama almarhum Ricky Yakob (kanan), dan Nasrul Koto (kiri)./visi.news/istimewa
Wong Solo yang semasa kejayaan Arseto Solo di kompetisi Galatama, antara tahun 1983 hingga 1998, selalu menyaksikan aksi Ricky Yakob di Stadion Sriwedari, menyatakan sangat kehilangan pemain bintang idolanya.
Qomarul Hadi, warga Kampung Gandekan, Solo, termasuk salah seorang pengagum Ricky Yakob yang merasakan kehilangan itu.
Dia menyatakan, setiap klub milik putra sulung Presiden Soeharto, Sigit Harjojudanto itu berlaga, tak pernah melewatkan kesempatan untuk menyaksikan lahirnya gol dari kaki mendiang Ricky Yakob.
“Tim berjuluk Biru Langit itu memang bertabur bintang. Selain mendiang Ricky Yakob, ada Sudirman, Nasrul Kotto, Inyong Lolombulan, Rochi Putiray, dan Eduard Tjong. Di antara para bintang itu, yang paling mengesankan almarhum Ricky Yakob karena permainannya cantik,” katanya, seperti dilansir VISI.NEWS .
Sejumlah mantan pemain tim Biru Langit yang kini bermukim di Kota Solo, menyatakan kaget menerima kabar duka dari Jakarta.
Bahkan, Ahmad Sukisno, salah seorang pemain tandem mendiang Ricky Yakob mengaku hampir menitikkan air mata karena ternyata bintang lapangan hijau di tahun 80 – 90-an itu mengembuskan napas terakhir di lapangan saat memainkan si kulit bundar.
“Semula salah seorang teman di Jakarta memberi kabar, Ricky Yakob terjatuh tidak sadarkan diri saat bermain bola. Dia minta doa supaya cepat sembuh. Tetapi saya kaget karena hanya berselang beberapa saat dia memberi kabar Ricky Yakob meninggal. Semoga husnul khatimah,” tutur Ahmad Sukisno.
Sebagai pemain yang pernah tandem dengan Ricky Yakob, Sukisno, mengenal almarhum sebagai magnet baik di lapangan maupun luar lapangan. Almarhum Ricky Yakob di lapangan hijau selalu tampil energik dan produktif dalam membobol gawang lawan.
“Sebagai pemain bintang, penampilan Ricky Yakob sangat bersahaya, ramah, dan menghormati sesama pemain. Bahkan, almarhum selalu mendorong teman-temannya berprestasi biar masuk tim nasional,” sambungnya.
Terpisah, Eduard Tjong yang termasuk salah seorang teman dekat almarhum Ricky Yakob, menyatakan, kesan yang paling membekas adalah dorongannya kepada teman-teman satu klub.
“Dia selalu bilang ke teman-teman, kamu harus bisa main di timnas karena punya kemampuan. Kata-kata itu yang selalu saya ingat sampai sekarang,” ujar mantan pemain tim nasional yang akrab disapa Edu itu.
Ricky Yakob bagi warga Kota Solo pecandu bola memang telah pergi ke alam keabadian. Tetapi, seperti dikatakan Qomarul maupun beberapa teman satu klubnya di Arseto Solo, nama Ricky Yakob sebagai bintang sepak bola takkan pernah dilupakan. (@fen) **